Jatuhnya Kekaisaran Rusia dan Kebangkitan Komunisme

  • February 10, 2020

Siapa yang tidak pernah mendengar kata komunisme, ideologi yang menjadi rival utama bagi kapitasilme barat pada masa terjadinya perang dingin. Komunisme menjadi label yang sangat mengerikan bagi berbagai negara di dunia tidak terkecuali Indonesia khususnya pada masa orde baru. Di Indonesia mereka yang mendapat label tersebut seringkali disangkakan artinya dengan penghianat negara yang sudah seharusnya dikucilkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Seperti itulah intensitas dari perlombaan ideologi pada masa perang dingin dimana kedua pihak saling berjuang menggunakan berbagai cara untuk memperluas pengaruh dan kedudukannya. Pada abad ke 18, sejarah dipenuhi dengan berbagai kejadian menarik. Bagaimana tidak, pada saat itu dunia mengalami 3 revolusi besar yaitu revolusi Amerika, revolusi industri, dan revolusi Prancis.

Selama berabad-abad, Eropa diperintah dengan sistem monarki absolut. Namun hal itu mulai berubah sejak terjadinya revolusi Prancis dan kemunculan Napoleon Bonaparte dengan kejeniusan militernya. Revolusi itu berhasil menjatuhkan monarki Prancis dan kemudian memaksa monarki Belanda untuk kabur. Serta membuat Eropa jatuh kedalam era Napoleonic, kemenangan kubu revolusi Prancis mengejutkan berbagai pihak yang merasa kepemimpinan monarki absolut akan segera berakhir dan digantikan dengan trend baru kepemimpinan republik.

Namun pada akhirnya Napoleon sang pejuang demokrasi, juga mengangkat dirinya sebagai kaisar Prancis yang membuatnya tidak jauh berbeda dengan para pemimpin Eropa lainnya. Singkat cerita Napoleon akhirnya kalah dan kekaisaran Rusia tampil sebagai salah satu pemenangan. Rusia yang percaya akan kemampuan militernya justru menganut kebijakan ekspansionis dengan menyerang ke arah selatan yaitu kesultanan Turki.

Setelah kalah akibat kebijakan ekspansionisnya itu, pemimpin Rusia yang baru, Tsar Alexander II mewarisi berbagai kesulitan dari para pemimpin sebelumnya. Ia berusaha menekan berbagai gerakan anti pemerintah dengan serangkaian kebijakan liberal. Membebaskan budak di seluruh Rusia dan mengizinkan penggunaan budaya dan bahasa lokal di berbagai wilayah jajahan Rusia adalah usahanya.

Sekalipun demikian, kelompok revolusi yang bernama kehendak rakyat percaya kebijakan itu masih kurang maksimal. Oleh karenanya, mereka terus berusaha untuk membunuhnya, 13 maret 1881, Tsar Alexander II berhasil terbunuh. Hal ini membuat penerusnya menganggap kebijakan liberal sebagai salah satu kompromi yang tidak ada gunanya, mereka pun akhirnya memerintah dengan tangan besi.

Menjelang terjadinya perang dunia pertama, kekaisaran Rusia diperintah oleh Tsar Nicholas II yang naik tahta pada november 1894. Pada masa pemerintahannya, kekaisaran Rusia mengalami perkembangan yang cukup pesat dibidang ekonomi dan industri. Hal ini disebabkan oleh berbagai fakto seperti meningkatnya investasi asing maupun program-program pembangunan infrastruktur seperti rel kereta api.

Tahun 1905, terjadi 2 kejadian yang akan merubah sejarah dari kekaisaran Rusia untuk selamanya. Yang pertama adalah kekalahan Rusia melawan Jepang yang kemudian disusul dengan terjadinya bloody sunday. Menghadapi berbagai permasalahan itu, para pemimpin Rusia terpaksa mengambil berbagai kebijakan baru untuk mengatasinya. Salah satunya adalah membentuk badan perwakilan rakyat yang dikenal sebagai Duma.

Dibentuknya Duma berhasil menjaga stabilitas politik di kekaisaran Rusia, setidaknya untuk sementara waktu. Sekalipun demikian, pada dasarnya Tsar Nicholas II adalah pemimpin konservatif yang percaya bahwa kekuasaan tertinggi harus dipegang oleh dirinya. Hal inilah yang mempengaruhi cara pandangnya terhadap Duma yang ia anggap sebagai penghalang. Padahal keberadaan perwakilan rakyat dapat membantunya dalam memahami dan menyelsaikan berbagai masalah di kekaisaran Rusia.

Awal Keruntuhan Kekaisaran Rusia dan Bangkitnya Komunisme

Tidak heran jika pada masa pemerintahannya, Tsar Nicholas II terkenal dengan berbagai kebijakan yang membatasi berbagai bentuk kebebasan baik dalam hal budaya maupun agama. Terbunuhnya pangeran Franz Ferdinand membuat dunia segera jatuh dalam perang besar dengan skala yang belum pernah dicapai sebelumnya. Kekaisaran Rusia segera memobilisasi pasukan-pasukannya untuk melindungi sekutunya Serbia. Uniknya baik Jerman maupun Austria, keduanya memandang lemah kemampuan militer Rusia yang karena luas wilayahnya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memobilisasi kekuatan militernya.

Namun karena keberhasilan Rusia dalam membangun infrastruktur serta kebijakannya menjalankan mobilisasi lebih awal, Rusia berhasil mempercepat mobilisasi militernya. Hasilnya, sebelum Jerman mampu mengalahkan musuh-musuhnya di fron barat dan juga sebelum Austria Hungaria siap berperang. Rusia berhasil melancarkan serangan lebih awal, pasukan Rusia yang dikerahkan saat itu merupakan pasukan terbaik dari segi persenjataan. Tidak mengherankan jika militer Rusia berhasil menembus berbagai pertahanan yang dibangun oleh pasukan fraksi sentral.

Hal ini segera membuat musuh-musuhnya panik khususnya Jerman. Pada dasarnya Jerman ingin memprioritaskan pasukannya di fron barat. Setelah menang di fron barat baru kemudian memindahkan kekuatan ke fron timur. Namun faktor itu membuatnya harus merubah rencana awalnya demi melindungi wilayahnya dari Rusia. Hal ini memaksa Jerman untuk memindahkan pasukannya dari fron barat untuk bertempur di fron timur.

Pada pertempuran Tannenberg, Jerman berhasil menghancurkan pasukan utama dari Rusia lengkap dengan perlengkapannya. Sekalipun telah kehilangan pasukan utamanya, dengan wilayahnya yang begitu luas, Rusia tetap tidak mau menyerah. Berbagai rencana dan senjata mutakhir Jerman sudah dikeluarkan, namun itu semua gagal membuat Rusia untuk menyerah. Bukan hanya tidak menyerah, Rusia bahkan melancarkan serangan besar-besaran yang hampir mengalahkan pasukan Austria Hungaria.

Alhasil militer Jerman menggunakan Carl Max dan komunisme sebagai senjata untuk menghadangnya. Jerman menghubungi Vladimir Lenin yang pada saat itu masih tinggal di Swiss. Jerman memintanya untuk kembali ke Rusia lengkap dengan dukungan finansial dari kapitalis Jerman. Apakah tugasnya?, tentu untuk menghancurkan kekaisaran Rusia secara internal dengan revolusi komunis.

Masyarakat Rusia yang sudah sangat menderita karena perang yang berlarut-larut semakin terpengaruh propaganda komunis yang menjanjikan damai, tanah dan roti. Hal ini membuat kedudukan pemerintah semakin tidak populer, pada akhirnya Tsar diturunkan pada bulan Maret 1917. Kemudian bulan oktober Lenin berhasil mengambil kepemimpinan pemerintahan Rusia.

Kejadian itu membuat Rusia resmi mundur dari perang, sekalipun Rusia telah mundur, fraksi sekutu berhasil mendapat penggantinya yaitu Amerika. Hal itulah yang membuat fraksi sentral pada akhirnya tetap kalah. Rusia sendiri jatuh pada perang saudara yang membaginya menjadi 2 kubu, para pendukung komunis dan pendukung Tsar. Pada akhirnya pendukung komunis tetap menang dan kisah kebangkitan Uni Sofiet akan segera dimulai.

Mengapa Dalam Sejarah, Inggris Menguasai Lautan

  • February 10, 2020

Mungkin sudah banyak dari kita yang mengenal istilah Inggris Berkuasa Atas Lautan. Istilah ini menggambarkan kepada kita, bagaimana mungkin sebuah Inggris, sebuah negara kepulauan yang terpisah dari daratan Eropa dapat menjadi negara dengan wilayah yang terluas sepanjang sejarah umat manusia. Sampai sekarang kita masih dapat merasakan peninggalan dari masa ketika Inggris menjadi negara adidaya.

Kita dapat melihat bagaimana Inggris dapat menjadi bahasa internasional, bagaimana kebiasaan mengkonsumsi teh dan kopi bisa tersebar, bagaimana sistem pendidikan Inggris menjadi label yang menjual bagi sekolah-sekolah. Beberapa contoh tersebut mungkin berdapak baik secara langsung maupun tidak langsung bagi kehidupan kita saat ini. Namun yang pasti hal itu sangat berdampak bagi kondisi geopolitik di dunia.

Keberhasilan Inggris dalam mengalahkan Spanish Armada selama 7 tahun, dan kemenangannya dalam perang Napoleon. Itu membuat Inggris dan Royal Navy bukan hanya tidak tertandingi di lautan, namun juga mampu memperluas kekaisarannya. Tidak mengherankan jika Inggri menyandang gelar sebagai suatu negara dimana matahari tidak pernah terbenam. Sekalipun pernah kehilangan 13 koloninya yang dikemudian hari menjadi Amerika Serikat, Inggris mampu mempertahankan kekuasaannya di wilayah lain, khususnya India.

Berbekal kepemilikannya atas India dan akses dagang ke Tiongkok, kekaisaran Inggris seakan memonopoli perdagangan dunia. Dalam berbagai peperangan siapapun yang berani melawan Inggris harus siap kehilangan akses dalam perdagangan dunia. Hal ini membuat negara-negara yang menjadi lawan Inggris berpikir 2 3 kali sebelum menyatakan perang. Dengan kata lain, Inggris mampu mencekek musuhnya tanpa harus berperang terlebih dahulu. Sebuah taktik yang mungkin terkesan licik namun efektif untuk dipergunakan.

Sun Tzu pernah berkata, menang tanpa berperang adalah kemenangan yang paling hebat. Ini dapat dianalogikan dengan kisah seperti kota berbenteng yang dikepung musuhnya. Kota tersebut tentu memiliki benteng sebagai sarana perlindungannya, namun bagaimana dengan tentara dan penduduknya. Mereka yang yang masih bernafas dan memiliki perut, tentu membutuhkan makanan dan minuman untuk menunjang kelangsungan hidupnya.

Hal ini dimanfaatkan oleh pasukan penyerang dengan taktik mengepung tanpa menyerang. Dengan hanya mengepun, pihak yang menyerang sudah berhasil memutuskan akses pangan dan air bersih dari kota tersebut. Setelah itu tinggal menunggu waktu saja sebelum kota tersebut kehabisan cadangan makanannya dan menyerah pada pasukan yang mengepungnya.

Berdasarkan hal tersebut dapat dibayangkan betapa licik dan pintarnya taktik yang dikembangkan oleh kekaisaran Inggris. Dalam sejarah kita mungkin mengenal negara yang bernama Prusia, negara ini beberapa kali menjadi sekutu yang sangat penting bagi Inggris. Baik pada perang 7 tahun maupun perang Napoleon, dimana tentara gabungannya berhasil mengalahkan pasukan Napoleon di Waterloo.

Peperangan Inggris Melawan Prusia atau Jerman

Sekalipun demikian, memasuki abad ke 20 dunia yang mereka kenal sudah banyak berubah. Prusia misalnya yang sudah berhasil menyatukan berbagai wilayah di Eropa tengah dan mendirikan kekaisaran Jerman. Dalam waktu yang relatif singkat ia berhasil berubah menjadi negara yang sangat kuat baik dari segi militer maupun ekonomi. Perubahan itulah yang kelak akan merubah dunia selamanya, Inggris yang saat itu menyandang gelar sebagai negara adidayapun sudah mulai terusik oleh teman lamanya.

Bagaikan Amerika dengan Tiongkok sekarang ini, Inggris dan Jerman juga berubah menjadi rival satu sama lain. Sekalipun demikian, sebagai negara yang mencetuskan revolusi industri, Inggris sangat menyadari kapasitas industri yang besar sekalipun tidak akan ada artinya tanpa didukung oleh ketersediaan bahan baku. Pada akhirnya ketika Inggris berperang dengan Jerman, ia langsung menerapkan taktik andalannya yaitu blokade laut untuk menekan Jerman, dari segi industri dan kebutuhan pangannya.

Jerman bukanlah lawan yang bodoh, ia memahami bahwa Inggris akan mengambil langkah tersebut. Namun bagaimana mengalahkannya, apakah mungkin sebuah negara bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa berdagang dengan dunia luar. Menghadapi masalah ini Jerman menjawab dengan 2 jawaban, sintetis dan Uboat. Jerman dan industrinya berusaha memproduksi kebutuhannya sendiri dengan berbagai kemajuan IPTEK yang mereka miliki.

Ilmuwan-ilmuwan Jerman mulai menghasilkan penemuan penting seperti bubuk sintetis dan berbagai kebutuhan militer lainnya. Mengenai Uboat, jauh lebih unik lagi khususnya bila dipandang dengan kacamata zaman itu. Kapal selam tentu tidak dapat mengalahkan armada tempur dari royal navy yang jumlahnya sedemikian besar. Tapi kapal selam lebih dari mampu untuk menghajar kapal-kapal dagang dari Inggris. Perang melawan Jerman membuat Inggris harus mencicipi racun yang ia sering gunakan untuk mengalahkan musuh-musuhnya.

Fritz Haber, Patriot Jerman yang Berakhir Tragis

  • February 10, 2020

“Saya percaya disaat damai, seorang ilmuwan melayani dunia, Namun disaat perang, seorang ilmuwan akan melayani negaranya”. Itulah perkataan yang paling terkenal dari Fritz Haber, Fritz adalah seorang ilmuwan yang penemuannya berhasil meningkatkan produksi pertanian secara signifikan. Berkan penemuannya umat manusia terhindari dari bencana kelaparan bahkan hingga sekarang. Sekalipun demikian, pada tahun 1914 terlepas dari segala kemajuan yang dimiliki oleh umat manusia, perang dunia tetap akan terjadi dan Fritz akan segera menemukan pekerjaan barunya.

Pada abad ke 20 negara-negara maju di Eropa sudah begitu cembung satu sama lain yang membuat terjadinya konflik. Inggris yang sudah lama menyandang  gelar sebagai negara adidaya mulai terusik oleh kawan lamanya. Bagaikan Uni Soviet dan Amerika dalam perang dingin, Inggris dan Jerman yang dulu pernah sangat mesra, perlahan berubah menjadi rival. Baik Inggris maupun Jerman pada dasarnya memiliki banyak kemiripan, keduanya sama-sama maju dalam berbagai bidang seperti pengetahuan teknologi dan kapasitas industri.

Sekalipun memiliki banyak kemiripan pada dasarnya Inggris tetap melampaui Jerman. Terlebih dalam hal akses sumber daya yang ia peroleh dari wilayah kekaisarannya, suatu kemewahan yang tidak dimiliki oleh Jerman. Dalam berbagai peperangan, Inggris yang berkuasa atas lautan seakan memegang kunci. Siapapun yang melawannya harus siap menghadapi blokade lautnya, ia memutuskan akses sumber daya dan ekonomi dari negara-negara yang menjadi lawannya.

Sebelum perang dunia pertama, sekitar 38% dari total kebutuhan pangan yang dikonsumsi oleh Jerman dipenuhi dengan cara import. Demikian juga untuk sektor pertanian, dimana kebutuhan akan pupuk nitrogen sebagian besar masih bergantung pada Chille. Ketika perang dunia pertama terjadi, Jerman harus menghadapi embargo laut dari royal navy Inggris. Embargo tersebut memutuskan akses sumber daya yang sangat dibutuhkan oleh Jerman untuk memenuhi kebutuhan pangan dan industrinya. Inggris sudah membayangkan bahwa Jerman akan segera mengalami krisis pangan dan bahan baku industri, lemudian Jerman akan menyerah.

Awal Mula Karir Fritz Haber, Sang Bapak Perang Kimia

Namun sejarah berkata lain, akibat kemajuan IPTEK serta penemuan dari Fritz Haber. Jerman mampu menggantikan berbagai kebutuhan pangan dan militernya. Karena selain untuk membuat pupuk, Haber Proces juga dapat digunakan untuk memproduksi bahan peledak dan amunisi. Setelah pertempuran berlangsung cukup lama, kedua pihak sama-sama terlibat dalam perang parit. Jerman sadar, ia tidak mungkin menang dalam perang melawan sekutu. Terobosan jelas dibutuhkan agar Jerman dapat memenangkan perang ini. Namun bagaimana menemukan terobosan ini?.

Bagi Jermanm tentu saja dengan berbagai kemajuan ilmu pengetahuannya. Oleh karenanya, Jerman memperkerjakan Fritz sebagai kepala bidang kimia di kementrian perangnya. Fritz dan rekannya mendapatkan tugas baru, yaitu memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan sebagai senjata untuk mengalahkan musuh Jerman, mirip seperti Einsten pada PD 2.

Sebagai seorang ilmuwan sekaligus patriot Fritz percaya, kematian adalah kematian, tidak peduli apa yang menyebabkannya dan bagaimana prosesnya. Ia percaya, penggunaan senjata kimia, perpotensi untuk mempersingkat jalannya peperangan sekaligus membuat Jerman mampu mencapai kemenangan. Baginya perang yang lebih singkat sama artinya dengan menyelamatkan lebih banyak orang yang tidak sempat bergabung dalam perang ini.

Pada awalnya Jerman justru kesulitan dalam menemukan perwira yang ingin mencoba senjata buatan Fritz karena meragukan senjata baru ini. Namun pada pertempuran Ypres yang kedua, dibawah pengawasan Fritz untuk pertama kalinya sambil mengucapkan tuhan menghukum Inggris. Jerman menggunakan lebih dari 150 ton gas beracun di fron barat. Dalam pertempuran itu sekitar 70.000 pasukan sekutu menjadi korbannya. Korban yang selamat juga mengalami gangguan kesehatan sehingga tidak mampu bertempur lagi.

Pada tanggal 2 mei, Fritz kembali ke rumahnya untuk merayakan keberhasilan atas penemuannya itu. Keesokan harinya ia akan segera pergi ke fron timur untuk  mengawasi serangan gas beracun lainnya. Istrinya yang juga merupakan ilmuwan jenius terus mencegah suaminya dalam memanfaatkan kejeniusannya untuk membunuh dan melukai orang lain. Ketika Fritz tetap pada pendiriannya, Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menembakkan dirinya sendiri menggunakan pistol yang dimiliki oleh suaminya.

Kematian istrinya tidak mengubah pendirian Fritz, dikemudian hari ia bahkan mengembangkan gas beracun yang lebih berbahaya dari sebelumnya. Namun, terlepas dari semua usahanya, Jerman tetap kalah pada perang dunia pertama. Kekalahan ini sangat memukul Fritz, ia bahkan menyatakan akan membayar ganti rugi perang dari Jerman.

Kebangkitan Hitler dan partai Nazi di Jerman membuat kehidupan Fritz semakin sulit. Walaupun ia merupakan seorang ilmuwan yang sangat berjasa dan mencintai Jerman, Dimata Nazi ia tetap merupakan seorang Yahudi. Terdesak oleh situasi, Fritz terpaksa pindah dari Jerman dan tinggal di Inggris.

Disana ia bertemu dengan rivalnya Chaim Weizmann, berbeda dengan Fritz, Weizmann merupakan seorang pemimpin Zionist yang kelak akan menjadi presiden pertama Israel. Weizmann menawarkan Fritz sebagai kepala dari institut sains Daniel Sieff. Tawaran itu diterima, namun tidak lama setelah itu, Fritz meninggal di Swiss karena gagal jantung dalam perjalanannya ke Israel.