Ini Kisah Tokoh Pahlawan yang Jarang Diketahui di Indonesia
Sejarah Indonesia tidak hanya dibangun oleh nama-nama yang berulang di buku pelajaran. Banyak pejuang bekerja lewat koran, sekolah, organisasi rakyat, ruang diplomasi, dan keberanian bertahan saat keadaan paling genting.
Kisah tokoh pahlawan yang jarang diketahui memperlihatkan bahwa kemerdekaan lahir dari kerja banyak orang di berbagai daerah. Sebutan pahlawan dalam percakapan sehari-hari juga perlu dibedakan dari gelar Pahlawan Nasional, yang ditetapkan negara melalui keputusan presiden.
Nama-nama berikut datang dari latar yang berbeda, tetapi semuanya memberi pelajaran tentang keberanian yang tidak selalu berlangsung di medan tempur.
Kisah Tokoh Pahlawan yang Jarang Diketahui dari Dunia Pers dan Pergerakan

Penjajahan tidak hanya dilawan dengan senjata. Tulisan, selebaran, berita, dan organisasi menjadi cara untuk menolak kekuasaan yang membatasi suara rakyat.
Pada masa kolonial, menerbitkan gagasan kemerdekaan bisa berujung penangkapan. Karena itu, wartawan dan aktivis pers memikul risiko yang besar. Mereka membantu orang memahami bahwa penindasan bukanlah keadaan yang harus diterima selamanya.
S.K. Trimurti, wartawati yang melawan penjajahan dengan tulisan
Surastri Karma Trimurti, atau S.K. Trimurti, lahir di Boyolali, Jawa Tengah. Ia memilih jalan pergerakan ketika perempuan masih sangat dibatasi dalam ruang politik dan media.
Trimurti menyebarkan pamflet anti-penjajahan serta aktif menulis untuk membangun kesadaran rakyat. Pemerintah kolonial Belanda menangkap dan memenjarakannya pada 1939 sampai 1943. Hukuman itu tidak membuat gagasannya berhenti.
Baginya, tulisan bukan hiasan halaman koran. Tulisan dapat menjelaskan ketidakadilan, menghubungkan pengalaman rakyat, dan menumbuhkan keberanian untuk bersuara. Ia juga memperluas ruang perempuan dalam gerakan nasional, tanpa harus memisahkan perjuangan perempuan dari cita-cita kemerdekaan.
Kisah S.K. Trimurti mengingatkan bahwa pendidikan politik dapat dimulai dari kata-kata yang dibaca bersama.
B.M. Diah, wartawan yang membantu menyebarkan berita proklamasi
Burhanuddin Mohammad Diah, yang lebih dikenal sebagai B.M. Diah, adalah wartawan dan diplomat asal Aceh. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan, tantangan berikutnya adalah menyebarkan kabar kemerdekaan secepat mungkin.
Saat itu, media berada dalam pengawasan ketat dan jalur komunikasi belum menjangkau semua daerah dengan mudah. Berita harus melewati kantor pers, radio, jaringan aktivis, dan orang-orang yang berani membawanya ke luar Jakarta.
B.M. Diah bersama rekan-rekan pers membantu menyebarluaskan kabar proklamasi. Perannya menunjukkan bahwa pernyataan kemerdekaan membutuhkan penyebaran informasi agar rakyat di berbagai wilayah mengetahui bahwa sebuah republik telah diproklamasikan.
Tanpa kabar yang bergerak, proklamasi dapat berhenti sebagai peristiwa di satu kota. Jurnalistik B.M. Diah membantu menjadikan berita itu milik bangsa yang lebih luas.
Pahlawan dari Daerah yang Memperjuangkan Persatuan Indonesia
Indonesia tumbuh dari banyak pulau, bahasa, dan pengalaman sejarah. Karena itu, perjuangan nasional juga hadir dalam bentuk yang berbeda di Papua, Sulawesi Selatan, Maluku, dan wilayah lain.
Persatuan tidak menuntut daerah kehilangan identitasnya. Sebaliknya, gagasan Indonesia memberi ruang bagi masyarakat daerah untuk menyuarakan kepentingan serta masa depannya sendiri.
Frans Kaisiepo, suara Papua dalam perjuangan integrasi
Frans Kaisiepo dikenal sebagai tokoh dari Biak yang memperjuangkan hubungan Papua dengan Indonesia melalui jalur politik dan sikap damai. Pada 1948, ia memimpin perlawanan rakyat Biak terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Setahun kemudian, ia menolak penunjukan untuk memimpin delegasi Nederlands Nieuw Guinea ke Konferensi Meja Bundar. Penolakan itu memperlihatkan sikap politiknya terhadap rencana Belanda bagi wilayah Papua.
Frans Kaisiepo juga terlibat dalam proses politik menuju Penentuan Pendapat Rakyat, atau PEPERA, pada 1969. Namun, sejarah integrasi Papua tidak tunggal. Peristiwa tersebut memiliki perdebatan, pengalaman, dan sudut pandang yang terus dibicarakan hingga sekarang.
Memahami Frans Kaisiepo juga berarti memahami bahwa persatuan Indonesia perlu dibaca bersama sejarah daerah yang tidak sederhana.
Namanya kini dipakai untuk Bandara Internasional Frans Kaisiepo di Biak dan tampil pada uang pecahan Rp10.000. Penghormatan itu tak boleh menggantikan upaya untuk membaca sejarah Papua dengan terbuka.
Opu Daeng Risadju, pemimpin perempuan dari Sulawesi Selatan
Opu Daeng Risadju adalah tokoh perempuan dari Sulawesi Selatan yang menggerakkan rakyat untuk menentang kekuasaan kolonial. Sebagai bangsawan, ia memiliki pengaruh sosial. Namun, ia tidak memakai kedudukannya untuk menjaga jarak dari rakyat.
Ia membangun dukungan terhadap kemerdekaan dan terlibat dalam pergerakan politik di wilayah Luwu. Ketika aktivitasnya dianggap mengancam kekuasaan kolonial, aparat Belanda menangkapnya. Ia mengalami perlakuan keras dalam tahanan.
Pengalaman itu menunjukkan harga yang harus dibayar oleh perempuan yang mengambil tempat di ruang politik pada masa kolonial. Dalam banyak narasi populer, peran perempuan daerah masih mendapat porsi kecil. Padahal, Opu Daeng Risadju membuktikan bahwa kepemimpinan lokal dapat menggerakkan perlawanan yang nyata.
Perjuangan yang Berlangsung di Medan Perang, Pendidikan, dan Diplomasi
Kepahlawanan sering dibayangkan sebagai pertempuran bersenjata. Padahal, republik juga bertahan karena ada orang muda yang melawan penjajah, perempuan yang membuka akses belajar, dan pemimpin yang menjaga pemerintahan saat pusat kekuasaan lumpuh.
Tiga tokoh berikut memperlihatkan bentuk perjuangan yang berbeda. Masing-masing bekerja dalam keadaan yang menuntut keberanian, keteguhan, dan keputusan yang tidak mudah.
Martha Christina Tiahahu, pejuang muda dari Maluku
Martha Christina Tiahahu terlibat dalam perlawanan rakyat Maluku terhadap Belanda sejak usia muda. Ia hidup dalam masa ketika masyarakat Maluku bangkit melawan kembalinya kekuasaan kolonial setelah masa Inggris berakhir.
Dalam perlawanan 1817, Martha ikut bersama ayahnya, Paulus Tiahahu. Keberaniannya tidak lahir dari posisi resmi atau kekuasaan besar. Ia berada di tengah rakyat yang mempertahankan tanah dan martabatnya.
Perjuangan Martha Christina Tiahahu berakhir dengan pengorbanan besar ketika ia masih muda. Kisahnya mengajarkan bahwa usia tidak selalu menentukan besarnya tanggung jawab seseorang. Kaum muda juga dapat mengambil peran saat masyarakat menghadapi ketidakadilan.
Maria Walanda Maramis, pahlawan pendidikan dan emansipasi perempuan
Maria Walanda Maramis lahir di Kema, Minahasa Utara, pada 1 Desember 1872. Ia melihat bahwa perempuan membutuhkan pendidikan agar mampu menentukan sikap dalam keluarga dan masyarakat.
Pada 1917, ia mendirikan Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya, atau PIKAT. Organisasi ini mendorong perempuan mempelajari keterampilan rumah tangga, kesehatan, pendidikan anak, serta pengetahuan yang berguna bagi kehidupan sosial.
Perjuangannya tidak berlangsung di medan perang, tetapi dampaknya menyentuh kehidupan sehari-hari. Maria Walanda Maramis menolak anggapan bahwa perempuan cukup berada di balik pintu rumah tanpa kesempatan belajar atau berorganisasi.
Kemerdekaan membutuhkan warga yang mampu berpikir dan mengambil keputusan. Karena itu, pendidikan perempuan adalah bagian dari perubahan sosial yang panjang.
Syafruddin Prawiranegara, pemimpin dalam masa pemerintahan darurat
Pada Agresi Militer Belanda II, Belanda menangkap sejumlah pemimpin Republik di Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Keadaan itu berisiko membuat dunia mengira Republik Indonesia telah berhenti ada.
Syafruddin Prawiranegara kemudian memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, atau PDRI, di Sumatra. Pemerintahan darurat ini menjaga kesinambungan Republik ketika komunikasi sulit dan ancaman militer terus berlangsung.
Perannya membuktikan bahwa kepemimpinan dalam krisis tidak selalu terlihat di garis depan. Mengelola pemerintahan, menjaga komunikasi, dan mempertahankan legitimasi negara juga merupakan perjuangan.
Sesudah masa revolusi, Syafruddin menjadi Presiden De Javasche Bank pada 1951 sampai 1953. Negara menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 113/TK/2011 pada 7 November 2011.
Mengapa Mereka Kurang Dikenal dan Apa Pelajarannya?
Kisah tokoh pahlawan yang jarang diketahui sering tenggelam karena waktu belajar sejarah di sekolah terbatas. Narasi dari pusat juga lebih sering mendapat tempat dibandingkan sejarah daerah yang memiliki sumber dan konteks sendiri.
Tokoh militer serta proklamator biasanya lebih mudah diingat karena hadir dalam peristiwa besar yang sering diperingati. Sementara itu, kerja pers, pendidikan, organisasi perempuan, dan pemerintahan darurat kerap dibahas lebih singkat.
Pembaca dapat menghargai sejarah dengan cara yang lebih bertanggung jawab:
- Membaca buku sejarah dari penerbit tepercaya dan sumber resmi pemerintah.
- Mencari sejarah lokal melalui museum, arsip daerah, serta perpustakaan.
- Membandingkan beberapa sumber saat mempelajari peristiwa yang masih diperdebatkan.
Nama yang jarang muncul bukan berarti jasanya kecil. Justru di situlah pembacaan sejarah perlu diperluas, agar pengalaman Indonesia tidak hanya dilihat dari satu kota atau satu jenis perjuangan.
