Bandar Poker Online

Menang Bermain Judi Poker Online Dengan Cara Jitu 

  • February 12, 2020

Jika berbicara mengenai permainan judi poker, maka seakan tidak ada habisnya. Karena permainan ini sering menjadi topik utama yang terus menerus dibicara para bettor. Para bettor akan terbiasa mengasah kemampuan otaknya dalam menyusun kartu terbaik untuk memperoleh keuntungan dan merupakan salah satu cara jitu memenangkan permainan judi poker online tersebut.

Tidak hanya ada satu cara yang bisa anda gunakan untuk bisa menang dari permainan poker itu. Masih banyak cara-cara lainnya yang juga ampuh untuk dijadikan cara kemenangan terbaik. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikutnya.

Gunakan Chip Judi Poker Online Secukupnya

Game poker online menggunakan chip sebagai alat tukar untuk memasang taruhan. Dan kemenangan yang diperoleh juga diberikan dalam bentuk chip dimana chip tersebut nantinya bisa anda tukar dengan uang asli.

Kalau anda ingin bisa menang pada permainan ini, maka pintar-pintarlah dalam menggunakan chip tersebut. Karena dengan begitu anda bisa mengetahui berapa jumlah chip yang harus dipakai dan berapa yang harus disisakan.

Mempelajari Cara Lawan Main Judi Poker Online

Anda bermain poker bukan hanya sendiri saja, namun ada lawan main yang berasal dari para pemain dan juga bandar. Keberadaan mereka tidak bisa dianggap hal yang biasa-biasa saja. Namun anda harus bisa mengalahkannya dengan berbagai cara demi kemenangan.

Salah satunya adalah pelajari cara yang digunakan pada saat permainan berlangsung. Dengan begitu anda bisa mudah menebak apa yang akan dilakukan berikutnya pada permainan tersebut. Bahkan anda bisa mempersiapkan cara khusus untuk menghadapinya. Sehingga kesempatan menang semakin terbuka lebar.

Gunakan Teknik Bluffing

Bluffing adalah teknik menggertak lawan dan sering digunakan dalam judi poker. Teknik bluffing adalah membuat lawan main anda yakin bahwa kartu yang anda miliki benar-benar bagus, sehingga mereka akan berpikiran lebih baik menyerah dari pada melanjutkan taruhan. Tidak hanya pemain saja, bahkan seorang bandar poker pun masih bisa terkecoh dengan cara ini.

Namun jika anda menerapkan teknik ini ada beberapa hal yang harus anda pastikan yaitu lawan main anda tinggal sedikit setidaknya 2 orang. Karena dengan begitu, anda akan lebih cepat berhasil menang.

Memperhitungkan Segala Sesuatu Dengan Matang

Cara selanjutnya yang tak kalah penting yaitu setiap hal yang anda lakukan haruslah diperhitungkan secara matang. Apa yang harus anda lakukan pada putaran berikutnya dan saat melawan lawan main anda. Semua itu harus anda pikirkan dengan sebaik-baiknya.

Jangan sampai kedepannya ada penyesalan yang membuat permainan berakhir dengan kekalahan dan tentu menyebabkan kerugian dari hilangnya chip yang anda pasang sebagai alat taruhan tersebut.

Manfaatkan Berbagi Posisi

Banyak dari bettor profesional menyarankan untuk mengubah posisi meja dan kursi permainan anda pada game judi Poker online. Karena menurut mereka berpindah posisi akan menjadikannya merasakan keberuntungan yang berbeda-beda. Ada sejumlah posisi duduk yang disarankan yaitu:

  • Posisi sebelah kiri dari bandar judi online,
  • Posisi paling akhir dari perputaran meja permainan.

Kedua posisi tersebut sering dipilih para bettor profesional untuk mendapatkan banyak kemenangan sehingga mereka mampu mengumpulkan banyak keuntungan yang diinginkannya.

Jangan Berlebihan Rasa Percaya Diri

Sah-sah saja jika anda memiliki rasa percaya diri yang besar apalagi jika kartu yang anda pegang adalah kartu dengan nilai yang besar. Namun bukan berarti anda harus santai-santai saja tanpa memikirkan apa pun.

Belum tentu anda bisa menang dengan kartu tersebut, jika anda berlaku acuh dan tidak memperdulikan apa pun. Terima kasih kamu telah meluangkan waktu untuk membaca artikel singkat mengenai cara mudah untuk menang dalam permainan poker online di situs Susupoker.

Jatuhnya Kekaisaran Rusia dan Kebangkitan Komunisme

  • February 10, 2020

Siapa yang tidak pernah mendengar kata komunisme, ideologi yang menjadi rival utama bagi kapitasilme barat pada masa terjadinya perang dingin. Komunisme menjadi label yang sangat mengerikan bagi berbagai negara di dunia tidak terkecuali Indonesia khususnya pada masa orde baru. Di Indonesia mereka yang mendapat label tersebut seringkali disangkakan artinya dengan penghianat negara yang sudah seharusnya dikucilkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Seperti itulah intensitas dari perlombaan ideologi pada masa perang dingin dimana kedua pihak saling berjuang menggunakan berbagai cara untuk memperluas pengaruh dan kedudukannya. Pada abad ke 18, sejarah dipenuhi dengan berbagai kejadian menarik. Bagaimana tidak, pada saat itu dunia mengalami 3 revolusi besar yaitu revolusi Amerika, revolusi industri, dan revolusi Prancis.

Selama berabad-abad, Eropa diperintah dengan sistem monarki absolut. Namun hal itu mulai berubah sejak terjadinya revolusi Prancis dan kemunculan Napoleon Bonaparte dengan kejeniusan militernya. Revolusi itu berhasil menjatuhkan monarki Prancis dan kemudian memaksa monarki Belanda untuk kabur. Serta membuat Eropa jatuh kedalam era Napoleonic, kemenangan kubu revolusi Prancis mengejutkan berbagai pihak yang merasa kepemimpinan monarki absolut akan segera berakhir dan digantikan dengan trend baru kepemimpinan republik.

Namun pada akhirnya Napoleon sang pejuang demokrasi, juga mengangkat dirinya sebagai kaisar Prancis yang membuatnya tidak jauh berbeda dengan para pemimpin Eropa lainnya. Singkat cerita Napoleon akhirnya kalah dan kekaisaran Rusia tampil sebagai salah satu pemenangan. Rusia yang percaya akan kemampuan militernya justru menganut kebijakan ekspansionis dengan menyerang ke arah selatan yaitu kesultanan Turki.

Setelah kalah akibat kebijakan ekspansionisnya itu, pemimpin Rusia yang baru, Tsar Alexander II mewarisi berbagai kesulitan dari para pemimpin sebelumnya. Ia berusaha menekan berbagai gerakan anti pemerintah dengan serangkaian kebijakan liberal. Membebaskan budak di seluruh Rusia dan mengizinkan penggunaan budaya dan bahasa lokal di berbagai wilayah jajahan Rusia adalah usahanya.

Sekalipun demikian, kelompok revolusi yang bernama kehendak rakyat percaya kebijakan itu masih kurang maksimal. Oleh karenanya, mereka terus berusaha untuk membunuhnya, 13 maret 1881, Tsar Alexander II berhasil terbunuh. Hal ini membuat penerusnya menganggap kebijakan liberal sebagai salah satu kompromi yang tidak ada gunanya, mereka pun akhirnya memerintah dengan tangan besi.

Menjelang terjadinya perang dunia pertama, kekaisaran Rusia diperintah oleh Tsar Nicholas II yang naik tahta pada november 1894. Pada masa pemerintahannya, kekaisaran Rusia mengalami perkembangan yang cukup pesat dibidang ekonomi dan industri. Hal ini disebabkan oleh berbagai fakto seperti meningkatnya investasi asing maupun program-program pembangunan infrastruktur seperti rel kereta api.

Tahun 1905, terjadi 2 kejadian yang akan merubah sejarah dari kekaisaran Rusia untuk selamanya. Yang pertama adalah kekalahan Rusia melawan Jepang yang kemudian disusul dengan terjadinya bloody sunday. Menghadapi berbagai permasalahan itu, para pemimpin Rusia terpaksa mengambil berbagai kebijakan baru untuk mengatasinya. Salah satunya adalah membentuk badan perwakilan rakyat yang dikenal sebagai Duma.

Dibentuknya Duma berhasil menjaga stabilitas politik di kekaisaran Rusia, setidaknya untuk sementara waktu. Sekalipun demikian, pada dasarnya Tsar Nicholas II adalah pemimpin konservatif yang percaya bahwa kekuasaan tertinggi harus dipegang oleh dirinya. Hal inilah yang mempengaruhi cara pandangnya terhadap Duma yang ia anggap sebagai penghalang. Padahal keberadaan perwakilan rakyat dapat membantunya dalam memahami dan menyelsaikan berbagai masalah di kekaisaran Rusia.

Awal Keruntuhan Kekaisaran Rusia dan Bangkitnya Komunisme

Tidak heran jika pada masa pemerintahannya, Tsar Nicholas II terkenal dengan berbagai kebijakan yang membatasi berbagai bentuk kebebasan baik dalam hal budaya maupun agama. Terbunuhnya pangeran Franz Ferdinand membuat dunia segera jatuh dalam perang besar dengan skala yang belum pernah dicapai sebelumnya. Kekaisaran Rusia segera memobilisasi pasukan-pasukannya untuk melindungi sekutunya Serbia. Uniknya baik Jerman maupun Austria, keduanya memandang lemah kemampuan militer Rusia yang karena luas wilayahnya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memobilisasi kekuatan militernya.

Namun karena keberhasilan Rusia dalam membangun infrastruktur serta kebijakannya menjalankan mobilisasi lebih awal, Rusia berhasil mempercepat mobilisasi militernya. Hasilnya, sebelum Jerman mampu mengalahkan musuh-musuhnya di fron barat dan juga sebelum Austria Hungaria siap berperang. Rusia berhasil melancarkan serangan lebih awal, pasukan Rusia yang dikerahkan saat itu merupakan pasukan terbaik dari segi persenjataan. Tidak mengherankan jika militer Rusia berhasil menembus berbagai pertahanan yang dibangun oleh pasukan fraksi sentral.

Hal ini segera membuat musuh-musuhnya panik khususnya Jerman. Pada dasarnya Jerman ingin memprioritaskan pasukannya di fron barat. Setelah menang di fron barat baru kemudian memindahkan kekuatan ke fron timur. Namun faktor itu membuatnya harus merubah rencana awalnya demi melindungi wilayahnya dari Rusia. Hal ini memaksa Jerman untuk memindahkan pasukannya dari fron barat untuk bertempur di fron timur.

Pada pertempuran Tannenberg, Jerman berhasil menghancurkan pasukan utama dari Rusia lengkap dengan perlengkapannya. Sekalipun telah kehilangan pasukan utamanya, dengan wilayahnya yang begitu luas, Rusia tetap tidak mau menyerah. Berbagai rencana dan senjata mutakhir Jerman sudah dikeluarkan, namun itu semua gagal membuat Rusia untuk menyerah. Bukan hanya tidak menyerah, Rusia bahkan melancarkan serangan besar-besaran yang hampir mengalahkan pasukan Austria Hungaria.

Alhasil militer Jerman menggunakan Carl Max dan komunisme sebagai senjata untuk menghadangnya. Jerman menghubungi Vladimir Lenin yang pada saat itu masih tinggal di Swiss. Jerman memintanya untuk kembali ke Rusia lengkap dengan dukungan finansial dari kapitalis Jerman. Apakah tugasnya?, tentu untuk menghancurkan kekaisaran Rusia secara internal dengan revolusi komunis.

Masyarakat Rusia yang sudah sangat menderita karena perang yang berlarut-larut semakin terpengaruh propaganda komunis yang menjanjikan damai, tanah dan roti. Hal ini membuat kedudukan pemerintah semakin tidak populer, pada akhirnya Tsar diturunkan pada bulan Maret 1917. Kemudian bulan oktober Lenin berhasil mengambil kepemimpinan pemerintahan Rusia.

Kejadian itu membuat Rusia resmi mundur dari perang, sekalipun Rusia telah mundur, fraksi sekutu berhasil mendapat penggantinya yaitu Amerika. Hal itulah yang membuat fraksi sentral pada akhirnya tetap kalah. Rusia sendiri jatuh pada perang saudara yang membaginya menjadi 2 kubu, para pendukung komunis dan pendukung Tsar. Pada akhirnya pendukung komunis tetap menang dan kisah kebangkitan Uni Sofiet akan segera dimulai.

Mengapa Dalam Sejarah, Inggris Menguasai Lautan

  • February 10, 2020

Mungkin sudah banyak dari kita yang mengenal istilah Inggris Berkuasa Atas Lautan. Istilah ini menggambarkan kepada kita, bagaimana mungkin sebuah Inggris, sebuah negara kepulauan yang terpisah dari daratan Eropa dapat menjadi negara dengan wilayah yang terluas sepanjang sejarah umat manusia. Sampai sekarang kita masih dapat merasakan peninggalan dari masa ketika Inggris menjadi negara adidaya.

Kita dapat melihat bagaimana Inggris dapat menjadi bahasa internasional, bagaimana kebiasaan mengkonsumsi teh dan kopi bisa tersebar, bagaimana sistem pendidikan Inggris menjadi label yang menjual bagi sekolah-sekolah. Beberapa contoh tersebut mungkin berdapak baik secara langsung maupun tidak langsung bagi kehidupan kita saat ini. Namun yang pasti hal itu sangat berdampak bagi kondisi geopolitik di dunia.

Keberhasilan Inggris dalam mengalahkan Spanish Armada selama 7 tahun, dan kemenangannya dalam perang Napoleon. Itu membuat Inggris dan Royal Navy bukan hanya tidak tertandingi di lautan, namun juga mampu memperluas kekaisarannya. Tidak mengherankan jika Inggri menyandang gelar sebagai suatu negara dimana matahari tidak pernah terbenam. Sekalipun pernah kehilangan 13 koloninya yang dikemudian hari menjadi Amerika Serikat, Inggris mampu mempertahankan kekuasaannya di wilayah lain, khususnya India.

Berbekal kepemilikannya atas India dan akses dagang ke Tiongkok, kekaisaran Inggris seakan memonopoli perdagangan dunia. Dalam berbagai peperangan siapapun yang berani melawan Inggris harus siap kehilangan akses dalam perdagangan dunia. Hal ini membuat negara-negara yang menjadi lawan Inggris berpikir 2 3 kali sebelum menyatakan perang. Dengan kata lain, Inggris mampu mencekek musuhnya tanpa harus berperang terlebih dahulu. Sebuah taktik yang mungkin terkesan licik namun efektif untuk dipergunakan.

Sun Tzu pernah berkata, menang tanpa berperang adalah kemenangan yang paling hebat. Ini dapat dianalogikan dengan kisah seperti kota berbenteng yang dikepung musuhnya. Kota tersebut tentu memiliki benteng sebagai sarana perlindungannya, namun bagaimana dengan tentara dan penduduknya. Mereka yang yang masih bernafas dan memiliki perut, tentu membutuhkan makanan dan minuman untuk menunjang kelangsungan hidupnya.

Hal ini dimanfaatkan oleh pasukan penyerang dengan taktik mengepung tanpa menyerang. Dengan hanya mengepun, pihak yang menyerang sudah berhasil memutuskan akses pangan dan air bersih dari kota tersebut. Setelah itu tinggal menunggu waktu saja sebelum kota tersebut kehabisan cadangan makanannya dan menyerah pada pasukan yang mengepungnya.

Berdasarkan hal tersebut dapat dibayangkan betapa licik dan pintarnya taktik yang dikembangkan oleh kekaisaran Inggris. Dalam sejarah kita mungkin mengenal negara yang bernama Prusia, negara ini beberapa kali menjadi sekutu yang sangat penting bagi Inggris. Baik pada perang 7 tahun maupun perang Napoleon, dimana tentara gabungannya berhasil mengalahkan pasukan Napoleon di Waterloo.

Peperangan Inggris Melawan Prusia atau Jerman

Sekalipun demikian, memasuki abad ke 20 dunia yang mereka kenal sudah banyak berubah. Prusia misalnya yang sudah berhasil menyatukan berbagai wilayah di Eropa tengah dan mendirikan kekaisaran Jerman. Dalam waktu yang relatif singkat ia berhasil berubah menjadi negara yang sangat kuat baik dari segi militer maupun ekonomi. Perubahan itulah yang kelak akan merubah dunia selamanya, Inggris yang saat itu menyandang gelar sebagai negara adidayapun sudah mulai terusik oleh teman lamanya.

Bagaikan Amerika dengan Tiongkok sekarang ini, Inggris dan Jerman juga berubah menjadi rival satu sama lain. Sekalipun demikian, sebagai negara yang mencetuskan revolusi industri, Inggris sangat menyadari kapasitas industri yang besar sekalipun tidak akan ada artinya tanpa didukung oleh ketersediaan bahan baku. Pada akhirnya ketika Inggris berperang dengan Jerman, ia langsung menerapkan taktik andalannya yaitu blokade laut untuk menekan Jerman, dari segi industri dan kebutuhan pangannya.

Jerman bukanlah lawan yang bodoh, ia memahami bahwa Inggris akan mengambil langkah tersebut. Namun bagaimana mengalahkannya, apakah mungkin sebuah negara bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa berdagang dengan dunia luar. Menghadapi masalah ini Jerman menjawab dengan 2 jawaban, sintetis dan Uboat. Jerman dan industrinya berusaha memproduksi kebutuhannya sendiri dengan berbagai kemajuan IPTEK yang mereka miliki.

Ilmuwan-ilmuwan Jerman mulai menghasilkan penemuan penting seperti bubuk sintetis dan berbagai kebutuhan militer lainnya. Mengenai Uboat, jauh lebih unik lagi khususnya bila dipandang dengan kacamata zaman itu. Kapal selam tentu tidak dapat mengalahkan armada tempur dari royal navy yang jumlahnya sedemikian besar. Tapi kapal selam lebih dari mampu untuk menghajar kapal-kapal dagang dari Inggris. Perang melawan Jerman membuat Inggris harus mencicipi racun yang ia sering gunakan untuk mengalahkan musuh-musuhnya.