Sejarah Kotagede Jogja dari Hutan Sampai Pusat Kerajinan

Sejarah Kotagede Jogja tidak akan lepas dari kisah Kerajaan Mataram Islam. Di mana dulu, kawasan ini menjadi ibukota sekaligus pusat berbagai kegiatan seperti politik, keagamaan, budaya dan masih banyak lagi.

Tidak heran bila sekarang ada begitu banyak peninggalan yang masih terawat dengan baik. Hal ini bisa menjadi bukti, betapa makmurnya wilayah ini dulu, terutama pada masa kepemimpinan Sultan Agung.

Cerita Tentang Sejarah Kotagede Jogja

Sejarah Kotagede Jogja dari Hutan Sampai Pusat Kerajinan

Kawasan ini merupakan peradaban tertua di Kota Gudeg, menurut penelusurannya berdiri pada 1532 M. Kisahnya sendiri tidak akan lepas dari Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Harus diakui kisahi perjalanan Kotagede dari awal sampai menjadi sebuah ibukota dan sekarang masih cukup sakral, terutama peninggalan masjidnya memang menarik. Berikut akan kami ceritakan secara singkat mengenai wilayah ini.

1. Pemberian Hutan Mentaok

Sejarah Kotagede Jogja berasal dari Jaka Tingkir yang punya musuh bebuyutan yaitu Arya Penangsang. Di mana menurut sejarahnya mampu dikalahkan oleh Ki Ageng Pemanahan, dan Sultan Hadiwijaya merasa berhutang budi. Untuk membayarnya, Ki Ageng Pemanahan diberi sebuah desa dengan status bebas pajak atau sekarang adalah Kotagede. Di mana usut punya usut, ternyata tanah itu merupakan peninggalan Mataram Kuno.

Setelah runtuh, tidak lagi digunakan dan akhirnya menjadi hutan yang cukup lebat. Kawasan tersebut kalau zaman sekarang membentang mulai dari Purwomartani, Banguntapan hingga ke Kotagede itu sendiri. Sejarah Kotagede Jogja tertulis setelah berhasil membangun sebuah desa, semua keluarga Ki Ageng Pemanahan diajak pindah ke sana sekaligus pengikutnya. Mereka hidup bahagia, tenteram dan sejahtera.

2. Masa Panembahan Senopati

Status wilayah tersebut belum berdiri sendiri, jadi masih di bawah Kerajaan Pajang. Hingga pada 1584, Ki Ageng Pemanahan Wafat. Posisi pimpinan digantikan oleh Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati. Dari kepemimpinan beliau, sejarah Kotagede Jogja mulai berkembang. Bukan lagi di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang, karena setelah berhasil ditaklukkan, Danang Sutawijaya mendirikan Kerajaan baru yaitu Mataram Islam. Bukan hanya itu, wilayah yang dulu diberikan oleh Jaka Tingkir sebagai hadiah, menjadi Ibukota.

Jadi semua kegiatan pemerintahan ada di sana, kondisinya benar-benar makmur, tenteram serta sejahtera. Tahun 1587 akhirnya Mataram Islam meraih kejayaan, bahkan mendapatkan predikat sebagai kerajaan termashyur di Pulau Jawa. Selain itu dalam mengatur kotanya, juga sudah mengenal konsep Catur Gatra Tunggal. Panembahan Senopati menggunakan konsep tersebut karena memang waktu itu, kota yang punya keraton juga mengusung hal sama. Struktur pembangunannya mempunyai 4 model dengan fungsi berbeda, sebagai berikut

  • Keraton untuk tempat tinggal Raja dan Ratu
  • Pasar sebagai pusat perekonomian
  • Alun-Alun untuk pusat hiburan sekaligus ruang publik
  • ¬†Masjid sebagai sarana peribadatan.

Empat bangunan tersebut sudah mencerminkan bagaimana pembangunan kota di sebuah kerajaan zaman dulu sangat bagus. Karena menyediakan berbagai tempat untuk memenuhi kegiatan politik, agama, ekonomi, serta sosial.

3. Masa Sultan Agung

Sejarah Kotagede Jogja berlanjut pada masa Sultan Agung, memimpin kurang lebih pada tahun 1613 – 1645 di mana ibukotanya berpindah ke kawasan Kerto. Di mana untuk jaraknya kurang lebih 4,5 km. Walaupun sudah tidak menjadi pusat pemerintahan lagi, namun wilayah ini memang masih memiliki Pasar, di mana namanya menjadi Pasar Gede.

Hanya saja, pada keadaan tersebut eksistensinya memang mulai mundur. Setelah pemindahan tersebut era Kotagede sebagai bagian dari Kerajaan Mataram Islam telah berakhir. Sejak saat itu juga, tidak terdengar lagi bagaimana pembangunan selanjutnya, tetapi tempat tersebut tetap melestarikan berbagai peninggalan.

4. Terkenal dengan Kerajinan Perak

Pada masa Panembahan Senopati sebenarnya, wilayah ini sudah terkenal dengan kerajinan Peraknya. Hanya saja, produk tersebut memang belum populer walau pemesan memang sangat banyak dari berbagai daerah. Kemudian, setelah ibukotanya pindah ke Pleret sejarah Kotagede Jogja sebagai pusat dari kerajinan Perak mulai naik secara perlahan. Beberapa orang mengaku memilih menetap untuk memenuhi kebutuhan pesanan.

Keadaannya bertambah bagus dan penjualannya mengesankan setelah VOC masuk ke daerah Yogyakarta. Bukan tanpa alasan, VOC memilih memesan seluruh peralatan rumah tangga ke sini dibandingkan tempat lain. Memang dari segi kualitas, hasil dari para pengrajin ini lebih bagus. Pada akhirnya pemerintah Belanda mampu membuat para warganya mengubah usaha dari rumahan menjadi sentra industri.

Mereka semua memenuhi berbagai pesanan dari empat kerajaan sekaligus yaitu Kasultanan Ngayoyokarto, Pura Pakualaman, Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran. Tidak heran bila kejayaannya mulai dari sini. Pada tahun 1933, eksistensi sebagai pusat pengrajin Perak dikukuhkan dengan pendirian sekolah seni kerajinan namanya adalah Kunst Ambachtsschool yang didirikan oleh Java Institut, di mana gedung satu kompleks dengan Museum Sasono Budoyo.

Sampai tahun 1980, sentra perak ini terus berada di puncak. Karena beberapa pengrajin mengaku pesannya sampai ke luar negeri seperti Malaysia, Pakistan, Romania, serta Arab.
Sejarah Kotagede Jogja memang menarik untuk disimak, mulai dari bagaimana kawasan tersebut bisa menjadi sebuah desa, kemudian ibukota kerajaan, sampai terkenal dengan sentra pengrajin perak.